Thursday, 7 February 2013

0 Km Pulau Sumatera Indonesia? Aku Pernah Memanjakan Mataku Disana (2)

Sahabat TI yang ikut ke Lhok Mata Ie berjumlah 19 orang dan akan bertambah bila adek-adek letingku dari angkatan 2012 sedang tidak mengikuti perkuliahan. Untuk menuju Pantai Lhok Mata Ie, harus melewati jalan setapak dan beberapa tanjakan dan turunan, diselingi dengan melewati dua padang ilalang, semak dan hutan lebat yang membuat medan ini susah dilalui. Pastas saja dulunya sempat tidak diperbolehkan untuk dikunjungi karena  kelompok gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) memilihnya sebagai salah satu lokasi persembunyian dan baru pada tahun 2005 satu persatu orang berani untuk mendaki.
Daki gunung, bukan "Daki" yang satu lagi
Sebelumnya ->  0 Km Pulau Sumatera Indonesia? Aku Pernah Memanjakan Mataku Disana (1)

Medan yang ditempuh memang sangat menantang, “No Mud, No Taste”. sepatu berselimut lumpur dan sol sepatu yang menipis membuat langkah mudah terpeleset karena lintasan sangat licin. Saat ½  perjalanan sudah ditempuh, Hevi kembali tumbang. Penyebab Hevi tumbang sampai dua kali karena tidak ada sarapan *nah, buat yang mau hiking, makan itu sangat penting. 60 menit waktu yang kami butuhkan bagi pemula untuk sampai ke Pantai Lhok Mata Ie.  

Onggokan bukit telah kami lewati di belakang, pasir putih terhampar di depan,   dan jejeran batu cadas terpacak di kiri-kanan.  Agak ke ujung, kami melihat boat para nelayan Aceh sedang berlalu lalang. Selebihnya adalah sunyi. Sesekali terdengar suara monyet yang mengerang sambil bergelantungan di atas pohon. Tak ada rumah-rumah penduduk, manusia yang lalu lalang atau pondok-pondok seperti layaknya sebuah tempat wisata. Tak ada pula raungan kendaraan memekakkan telinga. Semua terlihat alami, seolah tak terjamah manusia.
"Terbayar sudah, hilang capeknya. Pokoknya gak nyesal jauh-jauh kesini. Hiking bisa, rekreasi bisa," kata Zakiah Mourida.
Udara segar dan hamparan laut yang bewarna biru kehijau-hijauan telah kami rasakan. Tak jauh mata memandang, kami melihat Pulau Lumpa dan Pulau Lumpat. Tiba saatnya kami menyantap nasi siang yang telah kami beli, namun nasi yang dibeli hilang satu. Semua heran, kami semua memastikan bahwa satu bungkus nasi tersebut sudah diambil oleh monyet disekitar itu. Sebagai "Aneuk Teknik" itu bukan lah hal yang tidak ada solusinya. Kami diajarkan untuk saling berbagi pada saat SIKAT. Semua anggota kenyang dan seluruh anggota melanjutkan mandi laut yang airnya jernih sehingga kita dapat melihat kaki kita sendiri dari permukaan air.

Aceh memiliki pantai yang sangat indah, mungkin ini juga menjadi tanggung jawab kami sebagai calon Sarjana Teknik Industri untuk mengembangkan industri jasa sehingga Aceh semakin jaya kedepannya. Besar harapan kami untuk bisa mengunjungi Lhok Keutapang dua bulan mendatang.


Foto Keluarga IndusTiga Bahagia
Tunggu terus cerita seru dari kita ya!!!

Post a Comment

Start typing and press Enter to search